TAGLINE: #PemkabBengkayang #SebastianusDarwis #Kriminal
Pontianak Sanggau Ketapang Sekadau Melawi #Bengkayang Landak Sintang Kapuas Hulu Singkawang Kubu Raya Kayong Utara Sambas

Pembinaan Kepala Sekolah TK, SD dan SMP di Bengkayang, Wabup: "Guru Harus Mampu Kuasai Kelas"

Pembinaan Kepala Sekolah TK, SD dan SMP di Bengkayang, Wabup: "Guru Harus Mampu Kuasai Kelas"
Pembinaan kepada para Kepala Sekolah TK, SD dan SMP se-UPT Disdikbud Kecamatan Ledo. 

BorneoTribun Bengkayang - Dalam rangka meningkatkan SDM yang berkualitas dan berdaya saing, peran Guru atau Tenaga Pendidik memiliki peran penting yang tak dapat diabaikan. 

Hal tersebut dikatakan Wakil Bupati Bengkayang Drs. H.Syamsul Rizal bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bengkayang, Heru Pujiono, S.KM.,M.KM memberikan pembinaan kepada para Kepala Sekolah TK, SD dan SMP se-UPT Disdikbud Kecamatan Ledo, Rabu (19/1/2022) di SDN 02 Ledo. 

Pembinaan kepada para Kepala Sekolah TK, SD dan SMP se-UPT Disdikbud Kecamatan Ledo. 

Adapun materi pembinaan yang diberikan berupa penguatan/motivasi yang berlangsung selama kurang lebih satu setengah jam.

Beberapa hal penting yang disampaikan Wabup, diantaranya terkait peran guru sebagai orang yang menjadi panutan bagi para peserta didik. 

Kemampuan guru dalam meningkatkan kapasitas diri sesuai perkembangan dan perubahan yang terjadi bagi kepentingan peserta didik.

Kerjasama dan komunikasi yang baik dengan peserta didik maupun sesama guru serta beberapa hal lainnya.

"Guru harus mampu kuasai kelas," ungkap Wabup. 

Kemampuan menguasai kelas menurut Wabup akan memudahkan proses pembelajaran dan meningkatkan minat belajar peserta didik. 

Menguasai kelas bukan berarti guru harus bersikap otoriter, namun lebih kepada bagaimana kemampuan guru menciptakan kenyamanan bagi peserta didik dalam menerima materi yang diberikan.

Pembinaan kepada para Kepala Sekolah TK, SD dan SMP se-UPT Disdikbud Kecamatan Ledo. 

Wabup mengaku paling tidak menyukai jika dalam memberikan materi guru lebih banyak menitipkan catatan atau dalam istilah lama, catat buku sampai habis (CBSA), sebab hal itu akan memutuskan komunikasi antara guru dan peserta didik. 

Oleh karenanya, kata Wabup, kehadiran guru dengan metode-metode pembelajaran yang baik sangat dibutuhkan.

Terkait absensi, Wabup menegaskan bahwa tidak ada istilah keluarga, teman atau tim sukses, semua guru memiliki status yang sama, artinya tidak ada keistimewaan. 

Semua guru berkewajiban menjalankan tugas dengan baik untuk meningkat kualitas SDM Bengkayang.

"Kalau tidak menjalankan tugas dan tanggungjawabnya, silahkan diproses," tegas Wabup.

Sementara itu, Kepala Disdikbud Bengkayang, Heru Pujiono tak banyak menyampaikan materi. 

Selain itu, Heru meminta para guru lebih banyak berkreativitas bagi pengembangan peserta didik, Heru kembali mengingatkan agar guru dapat mendukung kesuksesan program vaksinasi ditingkat sekolah.

Usai memberikan motivasi, Wabup, Kadisdik, Camat Ledo, Danramil, Kapolsek, menyerahkan piagam penghargaan kepada pengurus daerah Forum Guru Menulis (FIM) Kabupaten Bengkayang dan penyerahan buku kepada perwakilan Kepala Sekolah.

Khusus buku yang diserahkan, dikatakan Kepala Sekolah SDN 02 Ledo, Natalia, S.Pd, buku-buku tersebut merupakan hasil kerjasama Disdikbud Bengkayang dengan Kemendikbud dan Ristek dalam rangka memperkaya literasi bagi dunia pendidikan, secara khusus di Kabupaten Bengkayang.

"Saya termasuk salah satu guru yang diberi kesempatan bekerjasama dengan FIM untuk penulisan buku," ujar Natalia.

Disampaikannya, secara keseluruhan ada 132 guru di Kabupaten Bengkayang yang bekerjasama dengan FIM. 

Sedangkan untuk UPT Disdikbud Ledo diwakili 6 Sekolah dengan jumlah peserta 2 orang setiap Sekolah. 

Pembinaan kepada para Kepala Sekolah TK, SD dan SMP se-UPT Disdikbud Kecamatan Ledo. 

Masing-masing penulis memiliki judul dan isi buku yang berbeda, artinya 132 literasi telah hadir dari kerjasama ini.

"Sekolah Literasi," Natalia menyebutkan judul buku yang berhasil Ia tulis. 

Isinya berkitan dengan pemahaman tentang literasi dan upaya menumbuhkan minat baca guru dan siswa.

Kerjasama penulisan buku ini hanya berlangsung selama 3 bulan, yakni September, Oktober, Nopember. 

Dengan waktu yang cukup singkat, Natalia bersyukur karena mampu menyelesaikannya.

Reporter: Rinto Andreas

Tinggalkan Komentar

Back Next
close